Rabu, 23 Maret 2011

Berawal dari kata simpati



Thursday, January 20, 2011, 7.13

Simpati. Ya. Bukan hanya sekedar kata yang keluar dari bibir kecil ini. Dari situlah semua dimulai.

Aqua, sekedar nama samaran yang diberikan Cece kepadaku untuk menyebut dia (pria dalam pokok pembicaraan tulisan ini). Sudah lebih dari satu minggu yang lalu aku mulai menaruh rasa simpati itu padamu, Aqua. Berawal dari perbincangan singkat di kelas saat itu, saat aku sedang menebali tattoo mainan huruf Arab di tanganmu dengan sebuah bolpoin, kau menanyakan beberapa hal yang jarang sekali bagi seorang teman lelaki lain tanyakan kepadaku. Aku tak berfikir apapun saat itu, yang ada di fikiranku hanyalah, kamu orang yang baik.

Aqua, sejak saat itu, entah mengapa aku mau membuka hatiku untuk sekedar meletakkan namamu disana, yang kemudian lama kelamaan mengeram, jauh dalam kesadaran logikaku. Kenapa harus namamu, Aqua? Ya, karena aku tak berhak ambil apapun dari dirimu, hanya sekedar nama samaran sederhana agar tak membuat orang lain tahu bahwa aku, simpati terhadapmu.

Aqua, hari demi hari, entah mengapa semua yang aku mau adalah kamu. Setiap malam, yang aku tunggu adalah pesan SMS darimu. Aku bangun pagi dan bersemangat ke sekolah hanya untuk melihat kamu. Aku jadi lebih emosional jika berada di kelas, aku ingin duduk dekat dengan kamu, ingin selalu satu kelompok denganmu, dan menginginkan semua hal yang sekiranya bisa membuat aku dekat denganmu. Apa aku suka denganmu, Aqua? Kau punya pendapat? Tentu tidak, sama sepertiku. Seperti aku yang tak pernah tau apa yang sedang terjadi dalam perasaanku. Aku tak tau rasa apa yang muncul ketika kau dengan seluruh kejahilanmu menggoda teman perempuan lain, ketika kau duduk mendekati teman perempuan lain, ketika kau bercerita tentang semua kegalauan hidupmu, lagi-lagi kepada teman wanita lain. Aku tak tau, Aqua. Cemburu, kah? Rasanya tak etis sekali… karena sadarku, mereka teman-teman baikku, tak akan mengkhianatiku. Dan aku juga bukan apa-apa, bukan siapa-siapa bagi kamu, tak berhak aku menyimpan rasa cemburu kepadamu. Yang terlintas dalam benakku hanyalah.. mengapa harus mereka yang bisa membuatmu tersenyum? Mengapa harus mereka yang kerap kali kau dekati untuk kau goda sepuas hatimu? Mengapa harus mereka yang kau percaya untuk mendengarkan keluh kesahmu? Dan mengapa bukan aku? Sungguh egoisnya rasa cemburuku ini, Aqua. Aku ingin menjadi mereka yang bisa menjadi apapun yang kamu inginkan, mereka yang siap mendengarkan semua keluh kesahmu. Sedangkan aku, Aqua? Aku tak lebih hanyalah seorang teman biasa yang hanya akan menjadi pengingatmu bila ada PR ataupun tugas sekolah, teman yang hanya akan kau anggap teman dan tak akan lebih lagi, teman yang hanya bisa melihatmu dari kajauhan dan selalu mencuri-curi senyuman kecilmu. Tak pernah pula aku sanggup menatap matamu yang menyimpan beribu keagungan misteri itu. 

Rasa simpati itu membuka segalanya, menjalar, dan membuat candu dalam keseharianku. Sampai kapan ini akan berakhir? Dimana pula ia akan bermuara? Aku hanya tau bagaimana memulai tanpa pernah tau bagaimana mengakhirinya. Aqua, bila kau tau jawabannya, ceritakan kepadaku semuanya. Kirim pesan SMS mu malam ini. Aku masih merindu.


2 komentar:

Risna Dwi Kartika mengatakan...

ehem :p

Aulia Khairunnisa mengatakan...

Frontal

Posting Komentar